Nov 22

Larva Cacing Kremi Nyasar Ke Organ Genital?

Cover JMENPernahkah mendengar adanya cacing kremi yang bersarang di area intim wanita? Mungkin sebagian orang tidak percaya, namun hal itu memang nyata dan terjadi di beberapa belahan dunia ini. Salah satunya juga pernah dilaporkan di negara kita ini. Lebih lanjut informasinya, silahkan buka di link berikut ya….

https://medcraveonline.com/JMEN/enterobius-vermicularis-larvae-in-urine-sample-of-female-student-the-first-case-report-in-indonesia.html

Nov 21

Cara Awetkan Telur Cacing Kremi Dalam Preparat

Jurnal teknik selotif-entellanTeman…ternyata telur cacing kremi yang mudah rusak dapat diawetkan dan bertahan bertahun-tahun. Setelah melalui uji coba yang sangat panjang, akhirnya ditemukan teknik pengawetannya pada preparat permanen. Teknik temuan itu adalah TEKNIK SELOTIF-ENTELLAN. Teman semua dapat membaca caranya di artikel publikasinya langsung ya…biar lebih jelas.

Ini link artikel diatas ya…. https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/jkmi/article/view/4788/0

Nov 20

h-Plasmodium Pada Ternak Kambing Peranakan Etawa di Daerah Endemik Malaria

Kambing-Peranakan-Etawa

Dugaan adanya keterlibatan ternak domestik sebagai salah satu host alternatif dalam jalur penularan penyakit malaria sedikit demi sedikit mulai terungkap. Sebuah penelitian yang mendapatkan banyak tantangan bahkan termasuk dari kalangan cendekia mulai menampakkan hasilnya. Survei yang dilakukan terhadap ternak kambing di lokasi endemik malaria mendeteksi keberadaan h-Plasmodium dalam darah ternak kambing. Pemeriksaan sediaan darah dilakukan secara mikroskopis dengan pewarnaan giemsa. Hasil pemeriksaan, ditemukan 4 slide (4,12%) positif Plasmodium sp pada darah kambing dengan letak kandang berjarak kurang dari 10 meter dari rumah tinggal. Terdeteksi adanya parasit tropozoit P. vivax (75%) dan tropozoit P. falciparum (25%) yang ditemukan pada 4 ekor kambing (4,1%). Sebanyak 75,3% kegiatan masyarakat membakar jerami di sekitar kandang ternak, sebagai upaya mengusir nyamuk. Ternak kambing Etawa berpotensi sebagai barrier di Desa Jatirejo Kecamatan Kaligesing, dengan ditemukan parasit P. vivax dan P. falciparum. Namun demikian, temuan mikroskopis ini masih akan dilanjutkan dengan pengujian lebih lanjut menggunakan metode molekuler agar hasil temuan ini dapat lebih banyak lagi mengungkap fakta ilmiah yang ada.

Selengkapnya di https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/jek/article/view/4092

 

Dec 26

Cacing Tambang Penyebab Anemia

Penyakit cacingan seringkali dianggap masalah remeh oleh berbagai kalangan bahkan para akademisi sekalipun. Akibat kurangnya perhatian pada penyakit cacingan ini tanpa disadari oleh banyak pihak secara perlahan namun pasti mengancam kualitas sumber daya generasi penerus.
Berkurangnya nutrisi pada anak akibat adanya cacing dalam tubuh menjadi salah satu faktor yang dapat menganggu proses tumbuh kembang anak, sehingga pada akhirnya akan dapat mempengaruhi kualitas kecerdasan.
Berbagai informasi lebih mendalam perihal cacing tambang yang menjadi salah satu penyebab hilangnya darah pada penderita diharapkan menjadikan sebuah keprihatinan sehingga memicu motivasi untuk mencegah terjadinya infeksi. Semoga buku ini dapat menjadikan motivasi awal untuk melakukan upaya pencegahan infeksi cacing tambang secara menyeluruh, amiin.
Cover Cacing tambang

Aug 01

Marker Keberadaan Human Plasmodium Pada Mamalia

Malaria merupakan penyakit tular vektor yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium yang masih menjadi salah satu penyakit infeksi penting di seluruh dunia dengan lebih dari 200 juta orang terinfeksi dengan sekitar 430.000 kematian per tahun. Di seluruh dunia dari tahun 2010 hingga 2015 mengalami penurunan sebesar 14 % yang semula 245 ribu kasus menjadi tinggal 212 ribu kasus. Sebagian besar kasus terjadi di wilayah Afrika (90 %), diikuti wilayah Asia Timur (7 %) dan Mediterania (2 %). Indonesia dilaporkan menyumbang kasus malaria sebesar 7 % dari seluruh kejadian di dunia. WHO melaporkan dari wilayah Afrika, proporsi kasus malaria yang ditunjang dengan tes parasitologi meningkat dari 40% kasus yang dicurigai pada tahun 2010 menjadi 76% kasus pada tahun 2015. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh peningkatan penggunaan tes diagnostik cepat ( RDT), yang menyumbang 74% dari tes diagnostik antara kasus yang dicurigai pada 2015.1

Di Indonesia, malaria ditemukan hampir di semua wilayah. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar menunjukkan pada tahun 2011 terdapat 374 Kabupaten endemis malaria dan diperkirakan ada 256.592 kasus malaria dengan jumlah kematian akibat malaria sebesar 388 orang.2 Secara nasional angka kesakitan malaria selama tahun 2005–2015 cenderung menurun yaitu dari 4,1 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2005 menjadi 0,85 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2015.

Daerah endemis tinggi turun dari 17,4% pada tahun 2011 menjadi 8,8% pada tahun 2015, daerah endemis sedang juga menurun dari 18,6% tahun 2011 menjadi 17% pada tahun 2015, serta daerah endemis rendah juga mengalami penurunan yang tajam dari 42,8% pada tahun 2011 menjadi 28,8% pada tahun 2015. Sebaliknya daerah bebas malaria mengalami peningkatan dari 21,5% pada tahun 2011 menjadi 45,4% pada tahun 2015.3 Hampir semua Kabupaten /Kota tidak terdapat kasus kematian tetapi hanya Kabupaten Blora yang mempunyai kasus kematian karena malaria dengan angka 2% namun merupakan kasus malaria impor.4

Penyebaran penyakit malaria disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah adanya perilaku nyamuk Anopheles yang berperan sebagai host definitive sekaligus vektor Plasmodium falciparum (P. falciparum).5 Beberapa spesies Anopheles memiliki sifat zoofagik, yaitu lebih suka menghisap darah binatang dibandingkan darah manusia.6 Hasil uji presiptin terhadap darah yang dihisap oleh Anopheles aconitus dari beberapa lokasi di Jawa Tengah menunjukkan angka 93.5 % berasal dari hewan dan hanya 6.5 % berasal dari manusia. Darah hewan yang dihisap, ternyata darah bovidae (kerbau, sapi) menunjukkan sumber utama, lebih dari 90 %. Di beberapa lokasi lain dimana jumlah ternak sangat sedikit atau tidak ada ternak sama sekali angka untuk pakan darah berasal dari manusia (human blood index) naik menjadi 54.3%.7 Nyamuk Anopheles maculatus lebih banyak dijumpai di permukiman (MBR=12,40) dan di kebun (MBR=42,38) pada penangkapan dengan metode umpan kambing dibanding dengan metode penangkapan nyamuk yang hinggap pada manusia (MBR=2,37).6

Dari sekitar 400 spesies nyamuk Anopheles, terdapat 30 spesies yang penting dalam penularan penyakit malaria.1 Adanya sifat zoofagik Anopheles inilah yang mendasari pemahaman bahwa keberadaan ternak di sekitar rumah hunian merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan berkurangnya kejadian malaria pada penghuni rumah8 dan meyakini bahwa keberadaan ternak akan berperan sebagai barrier dalam penularan penyakit malaria.9 Namun demikian, hingga saat ini belum diketahui secara pasti peran ternak yang sesungguhnya sebagai barrier.10

Pengalihan serangan gigitan Anopheles dari manusia ke hewan ternak merupakan sebuah solusi yang patut dipertimbangkan. Berbagai hasil penelitian tentang peran ternak dalam penularan penyakit malaria yang telah dilakukan belum memberikan kesatuan jawaban, dimana sebagian peneliti menyatakan bahwa ternak di sekitar permukiman akan menjadi faktor risiko kejadian malaria sedangkan sebagian peneliti lainnya mengatakan bahwa keberadaan ternak menjadi faktor protektif kejadian malaria. Erdinal, menyatakan bahwa keberadaan tempat pemeliharaan ternak besar di sekitar rumah hunian merupakan faktor risiko terhadap kejadian malaria (OR 3,2; CI 95% : 1,650 – 6,693)11, demikian pula dengan Kukuh Purwo Saputro, Arum Siwiendrayanti yang menyatakan ada hubungan antara keberadaan kandang ternak dengan kejadian malaria (p=0,012; OR=4,343).12 Lefaan, juga menyatakan bahwa adanya tempat pemeliharaan ternak di sekitar rumah merupakan faktor risiko kejadian malaria namun tidak signifikan (OR = 2,69; CI 95% : 0.33 – 22.24).13 Sementara Dewi Susanna, menemukan hasil bahwa keberadaan ternak besar merupakan faktor protektif terhadap kejadian malaria (OR = 0,76; CI 95% : 0,71–0,80)14, populasi nyamuk Anopheles ditemukan jauh lebih banyak di area kandang dan ternaknya dibandingkan dengan dalam ruangan rumah yang berisi manusia.9

Penelitian lain yang menggabungkan antara penggunaan ternak dan insektisida mendapatkan hasil bahwa sapi yang tidak berinsektisida justru lebih protektif sebagai barrier terhadap gigitan Anopheles apabila dibandingkan sapi yang berinsektisida.15 Kajian lainnya melaporkan risiko kejadian malaria berkurang atau ternak berperan sebagai zooprophylaxsis di daerah dimana spesies nyamuk yang dominan tidak menyukai host manusia, dan ternak ditempatkan pada kandang yang tidak terlalu dekat dengan tempat tidur manusia. Ternak sebagai zoopotentiation terjadi di mana ternak ditempatkan di dalam atau di dekat tempat tidur manusia di malam hari dan di mana spesies nyamuk lebih suka host manusia.16

Nyamuk Anopheles akan menularkan parasit Plasmodium spp dalam bentuk sporozoit melalui tusukan probosisnya, lalu berproses melalui fase intra hepatik hingga sampai pada fase eritrositer. Selama proses infeksi oleh P. falciparum dalam darah, merozoit menginvasi eritrosit melalui mekanisme yang kompleks dimana melibatkan ikatan antara ligan dan reseptor yang sesuai.17 Proses invasi eritrosit oleh Plasmodium melalui 4 tahapan, yaitu adanya interaksi antara merozoit dan eritrosit, orientasi dan terbentuknya ikatan yang kuat, mulai invasi dan menembus permukaan eritrosit, pembentukan vakuola parasitophorus untuk replikasi parasit.18

Gejala penyakit malaria baru akan muncul akibat adanya multiplikasi parasit di dalam sel darah merah, sedangkan pada perkembangan dalam hati tidak menimbulkan gejala klinis.19 Diantara empat spesies human plasmodium, P. falciparum merupakan satu-satunya spesies terpenting yang dapat menyebabkan kematian pada penderita melalui pembentukan roset pada pembuluh darah otak dan menyebabkan malaria cerebral. Antigen HRP 2 yang berasal dari P. falciparum merupakan factor virulensi yang berkontribusi dalam menyebabkan cerebral malaria.20

Sejak sporozoit masuk ke dalam kulit melalui tusukan proboscis Anopheles, makrofag akan berusaha menfagosit dan mensekresi sitokin interleukin 12 (IL-12) yang akan merangsang sel Nature Killer untuk menghasilkan interferon gamma (IFN gamma). Sementara itu sel T helper akan memproduksi sitokin IFN gamma dan IL-2 yang dapat meningkatkan kemampuan dan spesifisitas fagositosis makrofag.21 Respon imun yang muncul dengan terbentuknya berbagai sitokin tersebut juga dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme lain sehingga tidak dapat dikatakan spesifik hanya untuk parasit Plasmodium saja.

Sporozoit P. falciparum yang memasuki kulit akan segera bermigrasi ke sel hati dan memulai fase pre eritrositik. Sporozoit yang kontak dengan sel Kupffer akan menurunkan regulasi sitokin pro inflamasi TNF-alpha dan IL-6, juga meningkatkan regulasi sitokin anti inflamasi IL-10 setelah distimulasi oleh IFN-gamma.22 Di dalam hati, protein antigen sporozoit P. falciparum akan terekspresikan sebagai liver stage antigen (LSA)-1.23 Ekspresi LSA-1 ini diyakini sebagai petanda spesifik keberadaan P. falciparum di dalam sel hati.24, 25 Sporozoit P. falciparum akan melewati beberapa sel hati hingga menemukan sel hati yang menjadi target untuk diinvasi dan berkembang. Uji coba dalam tikus menunjukkan adanya invasi sporozoit Plasmodium dalam sel hati akan mengakibatkan terjadinya kerusakan dinding sel hati yang memicu terjadinya sekresi hepatocyte growth factor (HGF).26,27

Ekpresi LSA-1 dan sekresi HGF oleh sel hati yang diyakini sebagai petanda terpercaya akibat invasi sporozoit P. falciparum merupakan proposisi yang menarik untuk diterapkan pada ternak sebagai penguatan keyakinan bahwa ternak berperan sebagai barrier dalam penularan malaria. Kemunculan LSA-1 yang terekspresikan serta peningkatan kadar HGF sel hati ternak merupakan pendekatan terhadap jawaban bahwa sporozoit P. falciparum dapat menginvasi sel hati. Hasil sebaliknya merupakan kemungkinan jawaban bahwa sporozoit P. falciparum tidak dapat menginvasi sel hati, sehingga sangat menarik untuk dilakukan studi tentang ekspresi antigen dan faktor pertumbuhan dalam hati pada ternak yang terpapar P. falciparum.
Kajian perihal LSA-1 dan HGF pada ternak yang terpapar P. falciparum akan memberikan jawaban atas keyakinan bahwa ternak merupakan barrier28 dalam penyebaran penyakit malaria. Hal ini perlu diinisiasi mengingat informasi perihal mekanisme perkembangan parasit P. falciparum dalam tubuh hewan ternak mamalia masih belum diketahui secara pasti.

Referensi :
1. World Health Organization. World Malaria Report 2016 [Internet].
Geneva, Switzerland; 2016. Available from: http://www.who.int/malaria/publications/world-malaria-report-2016/report/en/
2. Kemenkes RI. Epidemiologi Malaria di Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Triwulan, ISSN 2088-270X. 2011;1–3.
3. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2015 [Internet]. 2016. Available from: www.depkes.go.id/…/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-Indonesia-2015.pdf
4. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. Buku Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012. Buku Profil Kesehat Provinsi Jawa Teng Tahun 2012. 2012;3511351(24):1–118.
5. Harijanto P, Laihad F, Poesporodjo J. Epidemiologi Malaria di Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. 2011;
6. Shinta, Sukowati S, Pradana A, Marjianto, Marjana P. Beberapa Aspek Perilaku Anopheles maculatus Theobald di Pituruh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Bul Penelit Kesehat [Internet]. 2013;41(3):131–41. Available from: http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/BPK/article/view/3284/3278
7. Kirnowardoyo S. Status of Anopheles malaria vectors in. Southeast Asian J Trop Med Public Health [Internet]. 1985;1:129–32. Available from: http://europepmc.org/abstract/med/4023805
8. Susanna D, Eryando T. Faktor Dominan yang Mempengaruhi Kejadian Malaria di Perdesaan. Kesehat Masy Nas. 2010;4(4):180–5.
9. Yakubu A., Singh A. Livestock : An alternative mosquito control measure. Sokoto J Vet Sci. 2008;7(1).
10. Hurd H. Can cows protect against mosquito bites ? [Internet]. Biomed Central Blogs. 2014. Available from: http://blogs.biomedcentral.com/bugbitten/2014/03/27/can-cows-protect-against-mosquito-bites-2/
11. Erdinal, Susanna D, Wulandari RA. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria Di Kecamatan Kampar Kiri Tengah Kabupaten Kampar. Makara Kesehat. 2006;10(2).
12. Saputro KP, Siwiendrayanti A. Hubungan Lingkungan Sekitar Rumah Dan Praktik Pencegahan Dengan Kejadian Malaria Di Desa Kendaga Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara. Unnes J Public Heal. 2015;4(2).
13. Lefaan AM, Wahidudin W, Thaha ILM. Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Tawiri Kecamatan Baguala Kota Ambon Provinsi Maluku Periode 2009-2011. 2011.
14. Susanna D, Eryando T. Faktor Dominan yang Mempengaruhi Kejadian Malaria di Perdesaan. J Kesehat Masy Nas. 2010;4(4).
15. Hanafy I, Soviana S, Hadi UK. Keanekaragaman Jenis, Kepadatan Dan Aktivitas Menghisap Darah Anopheles (Diptera: Culicidae) Pada Aplikasi Zooprofilaksis Di Daerah Endemis Malaria. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor; 2015.
16. Donnelly B, Ford BL, Ross NA, Michel P. A systematic, realist review of zooprophylaxis for malaria control. Malar J. 2015;14(313).
17. Weiss GE, Gilson PR, Taechalertpaisarn T, Tham W, Jong NWM De, Harvey KL, et al. Revealing the Sequence and Resulting Cellular Morphology of Receptor-Ligand Interactions during Plasmodium falciparum Invasion of Erythrocytes. 2015;1–25.
18. Salinas ND, Tolia NH. Red cell receptors as access points for malaria infection. 2016;215–23.
19. Sturm A, Amino R, van de Sand C, Regen T, Retzlaff S, Rennenberg A, et al. Manipulation of host hepatocytes by the malaria parasite for delivery into liver sinusoids. Science (80- ) [Internet]. 2006;(313):1287–90. Available from: https://doi.org/10.1126/science.1129720
20. Pal P, Balaban AE, Diamond MS, Sinnis P, Klein RS, Goldberg DE. Plasmodium falciparum histidine-rich protein II causes vascular leakage and exacerbates experimental cerebral malaria in mice. PLoS One [Internet]. 2017;1–7. Available from: http://dx.doi.org/10.1371/journal.pone.0177142
21. Rusjdi SR. Perjalanan parasit malaria ditinjau dari aspek immunologi dan biomolekuler. MKA [Internet]. 2014;37(2):143–50. Available from: http://jurnalmka.fk.unand.ac.id
22. C. Klotz, U. Frevert. Plasmodium yoelli sporozoites modulate cytokine profile and induce apoptosis in murine Kupffer cells. Int J Parasitol. 2008;38(14):1639–50.
23. Mikolajczak SA, Jr JBS, Vega PD La, Camargo N, VanBuskirk K, Krzych U, et al. Disruption of the Plasmodium falciparum liver-stage antigen-1 locus causes a differentiation defect in late liver-stage parasites. Cell Microbiol. 2011;13(8):1250–60.
24. Taylor-Robinson AW. Immunity to liver stage malaria. Immunol Res. 2003;27(1):53–69.
25. Hillier CJ, Ware LA, Barbosa A, Angov E, Lyon JA, Heppner DG, et al. Process development and analysis of liver-stage antigen 1, a preerytrocyte-stage protein-based vaccine for Plasmodium falciparum. Infect Immun. 2005;73(4):2109–15.
26. Alexis Kaushansky, Stefan H I Kappe. The crucial role of hepatocyte growth factor receptor during liver-stage infection is not conservedamong Plasmodium spesies. Nat Med. 2013;17(10):1180–1.
27. M. Carrolo, S. Giordano, L. Cabrita-Santos, et al. Hepatocyte growth factor and its receptor are required for malaria infection. Nat Med. 2003;9(11):1363–9

Oct 04

Parasit yang ditularkan melalui tanah dan non tanah

KBM 1_Parasit Yang Ditularkan Melalui Tanah & Non Tanah

Jul 30

Teknik Identifikasi dan Pemeriksaan Laboratorium Infeksi Kecacingan (Buku baru)

Contoh cover teknik identifikasi

Contoh halaman isi teknik identifikasi

Jul 30

SAPI, Benarkah Dapat Menularkan MALARIA ?

Sampai saat ini malaria masih merupakan penyakit infeksi utama yang menyebabkan tingginya tingkat kecacatan dan kematian di negara-negara tropis dan subtropis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada 2008 total tahunan 247 juta kasus malaria di seluruh dunia, dengan satu juta kematian dan 85% dari kematian ini terjadi di balita. Hal ini membuat malaria merupakan masalah kesehatan di negara-negara endemik yang sangat membutuhkan perhatian dan manajemen terpadu.1Angka kematian tertinggi, terutama di balita, terjadi di wilayah sub-Sahara Afrika, sementara tingkat kematian tertinggi kedua di Asia Tenggara.2
Pada tahun 2011, The World Malaria Report melaporkan kembali bahwa sampai tahun 2010 tercatat 216 juta kasus malaria diantara 3,3 miliar penduduk dunia yang berisiko terkena penyakit malaria. Tercatat 655.000 orang meninggal akibat malaria di seluruh dunia dan 86 % diantaranya adalah anak-anak kurang dari 5 tahun. Sebanyak 91 % kematian akibat malaria terjadi di Afrika.3
Laporan dari Sub Sahara Afrika, malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat dimana kasus tertinggi terjadi antara bulan September – Desember. Sementara pada bulan Juni – Agustus dilaporkan 300-500 juta kasus dan pada bulan April terjadi sekitar satu juta kematian telah. Terjadinya outbreak sudah menjadi hal umum dan malaria manjadi empat penyebab utama kematian anak di di Negara-negara berkembang dengan distribusi kasus tergantung dari populasi penduduk usia 5 tahun di masing-masing Negara. 4
Penularan malaria dan tingginya kasus berkaitan dengan masalah iklim dan ketinggian daerah dari permukaan air laut.5, 6 Malaria menjadi perhatian dan penyakit utama penduduk miskin di Afrika karena merupakan salah satu penyebab utama kematian yang sulit dihindari, dan sebagai penyumbang angka morbiditas dan mortalitas yang penting. Meskipun upaya untuk mengendalikan malaria di Afrika sudah banyak dilakukan, namun hingga saat ini masih menjadi beban bagi aangka malaria global. Peningkatan kasus malaria sebesar 71% dan kematian mencapai 86% di Afrika diantaranya akibat resistensi parasit terhadap obat. Terhitung seorang penderita akan meninggal setiap 10 detik akibat malaria di Afrika. 7
Di Indonesia, malaria ditemukan hampir di semua wilayah. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar menunjukkan pada tahun 2011 terdapat 374 Kabupaten endemis malaria dan diperkirakan ada 256.592 kasus malaria dengan jumlah kematian akibat malaria sebesar 388 orang.8 Oleh karena itu penyakit malaria menjadi target pemerintah untuk dieliminasi secara bertahap sampai tahun 2030. Kementerian Kesehatan menargetkan tahun 2015 telah berhasil mengeliminasi penyakit malaria di Pulau Jawa-Bali dan meningkatkan langkah sosialisasi kepada masyarakat untuk mencapai target tersebut. Pelaksanaan pengendalian malaria menuju eliminasi dilakukan secara bertahap dari satu pulau atau beberapa pulau sampai seluruh pulau tercakup guna terwujudnya masyarakat yang hidup sehat yang terbebas dari penularan malaria sampai tahun 2030.9
Endemisitas malaria di kabupaten/kota terlihat penurunan jumlah daerah endemis tinggi dimana pada tahun 2011 kabupaten/kota yang termasuk daerah endemis tinggi sebanyak 18%, pada tahun 2012 sebanyak 16% dan pada tahun 2012 menjadi 14%. Sebaliknya, persentase kabupaten/kota dengan endemisitas rendah meningkat. Secara nasional angka kesakitan malaria selama tahun 2005–2013 cenderung menurun yaitu dari 4,1 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2005 menjadi 1,38 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2013. 10
Program eliminasi malaria di Jawa – Bali pada tahun 2015 tampaknya belum sepenuhnya berhasil. Jumlah kasus malaria di Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 3.467 kasus dengan CFR 0,12%, meningkat dibandingkan kasus tahun 2010 sebanyak 3.300 kasus. Penderita malaria tahun 2012 ditemukan di 27 kabupaten, terbanyak di Kabupaten Banjarnegara (592 penderita) dan tidak ada kasus di 8 Kabupaten/Kota. Pada tahun 2012 masih ditemukan desa High Case Incidence (HCI) sebanyak 31 desa yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Purworejo, Kebumen, Purbalingga, Banyumas dan Jepara. Angka kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence-API) merupakan indikator untuk memantau perkembangan penyakit malaria. Jumlah kasus tahun 2012 sebanyak 2.420 kasus, lebih rendah dibanding tahun 2011 (3.467 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0,08‰, sedikit turun dibandingkan tahun 2011 (0.11‰). Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2012 sebesar 0,01%. Hampir semua Kabupaten/Kota tidak terdapat kasus kematian tetapi hanya Kabupaten Blora yang mempunyai kasus kematian karena malaria dengan angka 2% namun kasus malaria impor.11
Sporozoit Plasmodium spp masuk bersama gigitan nyamuk lalu bermigrasi ke hati dan berkembang hingga menghasilkan merozoit yang dilepaskan ke dalam darah. Merozoit akan menginvasi eritrosit dan berkembang menjadi stadium tropozoit dan schizon. Schizon matang akan menghasilkan merozoit kembali. Merozoit bebas dengan kisaran 16 – 32 buah kemudian menyerang eritrosit lain untuk melanjutkan siklus hidupnya. Semua gejala klinis timbul selama siklus aseksual ini. Dalam eritrosit, sebagian stadium tropozoit akan berkembang menjadi gametosit jantan atau betina, sebagai bentuk seksual Plasmodium spp. Stadium gametosit akan masuk ke tubuh nyamuk saat terjadi proses gigitan nyamuk betina. Di dalam tubuh nyamuk kedua jenis gametosit akan melakukan perkawinan dan membentuk zigot. Zigot berkembang untuk membentuk ookinete invasif, yang melintasi midgut dan berubah menjadi sebuah ookista yang mengandung sporozoit. Saat sporozoit dilepaskan ke kelenjar ludah, nyamuk dapat menularkan malaria ke vertebrata lain melalui gigitannya.12
Mulainya fase eritrositik siklus schizogoni adalah saat proses invasi merozoit ke dalam eritrosit. Merozoit dapat melakukan invasi eritrosit dengan mekanisme pengikatan antara ligan yang terdapat pada merozoit Plasmodium spp dengan reseptor yang dimiliki oleh eritrosit. Pasangan reseptor-ligan merupakan hal sangat penting bagi invasi eritrosit di semua pengujian strain P. falciparum.13 Invasi eritrosit oleh P. falciparum merupakan pusat patogenesis malaria. Invasi membutuhkan mekanisme ekstraseluler antara reseptor eritrosit dan ligan pada merozoit yang merupakan bentuk invasif parasit. 14-17 Ok blood group antigen, yaitu basigin, adalah reseptor untuk PfRh5 yang merupakan parasit ligan yang sangat penting dalam invasi eritrosit.18 Sedangkan untuk P. vivax ikatan ligan – reseptor melalui mekanisme adanya Duffy Antigen for Receptor Chemokin (DARC).19
Penularan malaria dapat berjalan dengan adanya nyamuk Anopheles spp. Uji presiptin terhadap darah yang dihisap oleh An aconitus dari beberapa lokasi di Jawa Tengah menunjukan angka 93.5 % berasal dari hewan, dan hanya 6.5 % berasal dari manusia. Dari darah hewan, ternyata darah bovidae (kerbau,sapi) menunjukan sumber utama, lebih dari 90 %. Di beberapa lokasi lain di mana jumlah ternak sangat sedikit atau tidak ada ternak sama sekali angka untuk darah berasal dari manusia (human blood index) naik menjadi 54.3%.20 Penelitian sejenis pada tahun berikutnya juga melakukan uji presipitin menunjukkan 56,04% dari populasi An. aconitus mengisap darah sapi, 23,07% darah kerbau, 13,19% darah domba dan 4,40% darah kambing serta 3,30% darah manusia. Hasil tersebut menyimpulkan bahwa ternak sapi atau kerbau dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan metode zooprofilaksis baik secara aktif maupun pasif dalam mengatasi penularan malaria. 21
Apabila dikaitkan antara kebiasaan menghisap darah oleh Anopheles spp betina dan siklus aseksual Plasmodium spp dalam tubuh vertebrata termasuk manusia, jelas sekali keduanya sangat erat kaitannya dalam penularan malaria sehingga memunculkan gagasan tentang zooprofilaksis. Penggunaan ternak ruminansia sebagai umpan untuk menarik nyamuk agar tidak menggigit manusia sehingga dapat mengurangi penularan malaria, merupakan proposisi menarik yang telah diperdebatkan selama bertahun-tahun. Ternak akan bertindak sebagai tuan rumah buntu, karena Plasmodium spp sebagai spesies malaria yang menginfeksi manusia tidak akan berkembang optimal di dalamnya.22 Namun demikian, pendapat tentang ternak ruminansia sebagai tuan rumah buntu tersebut tidak didukung oleh seluruh hasil penelitian yang ada. Beberapa penelitian yang mengamati keberadaan ternak di sekitar tempat tinggal memberikan hasil temuan yang berbeda.
Erdinal et al, menyatakan bahwa keberadaan tempat pemeliharaan ternak besar di sekitar rumah hunian merupakan faktor risiko terhadap kejadian malaria (OR 3,2; CI 95% : 1,650 – 6,693) 23 demikian pula dengan Kukuh Purwo Saputro, Arum Siwiendrayanti yang menyatakan ada hubungan antara keberadaan kandang ternak dengan kejadian malaria (p=0,012; OR=4,343).24 Lefaan et al, juga menyatakan bahwa adanya tempat pemeliharaan ternak di sekitar rumah merupakan faktor risiko kejadian malaria namun tidak signifikan (OR = 2,69; CI 95% : 0.33 – 22.24).25
Sementara Dewi Susanna, menemukan hasil bahwa keberadaan ternak besar merupakan faktor protektif terhadap kejadian malaria (OR = 0,76; CI 95% : 0,71–0,80)26, populasi nyamuk Anopheles ditemukan jauh lebih banyak di area kandang dan ternaknya dibandingkan dengan dalam ruangan rumah yang berisi manusia.27 Penelitian lain yang menggabungkan antara penggunaan ternak dan insektisida mendapatkan hasil bahwa sapi yang tidak berinsektisida justru lebih protektif sebagai barrier terhadap gigitan Anopheles apabila dibandingkan sapi yang berinsektisida.28 Kajian lainnya melaporkan risiko kejadian malaria berkurang atau ternak berperan sebagai zooprophylaxsis di daerah dimana spesies nyamuk yang dominan tidak menyukai host manusia, dan ternak ditempatkan pada kandang yang tidak terlalu dekat dengan tempat tidur manusia. Ternak sebagai zoopotentiation terjadi di mana ternak ditempatkan di dalam atau di dekat tempat tidur manusia di malam hari dan di mana spesies nyamuk lebih suka host manusia.29
Di sisi lain, Cheryl-Ann Lobo melaporkan dari hasil kajiannya tentang invasi eritrosit oleh Babesia divergens dan P. falciparum. Kedua spesies parasit yang berbeda hospes tersebut ditemukan memiliki jalan masuk ke dalam eritrosit melalui reseptor umum yang sama, yaitu glikophorin A dan B. Dengan ditemukannya jenis reseptor yang sama tersebut, memberikan peluang untuk terjadinya penularan silang hospes pada Babesiosis yang terjadi pada hewan dan Plasmodium falciparum pada manusia. 30
Hillary Hurd memang telah menyampaikan pendapatnya bahwa ternak ruminansia besar merupakan sebuah tuan rumah buntu bagi perkembangan parasit Plasmodium spp. Namun demikian pendapat tersebut tidak didukung oleh data hasil penelitian yang akurat. Selanjutnya, apabila memang Plasmodium falciparum dapat melakukan invasi ke dalam eritrosit ternak ruminansia, pertanyaan berikutnya apakah Plasmodium falciparum dapat berkembang di dalamnya ? Apakah juga dapat menghasilkan stadium seksual ? Belum ada yang melaporkan apakah Plasmodium spp dapat berkembangbiak sebagaimana pada manusia sebagai host perantara pada ternak ruminansia tersebut ataukah tidak. Apabila memiliki kemampuan berkembang biak hingga stadium seksual dalam eritrosit ternak ruminansia, maka status ternak ruminansia yang selama ini dianggap sebagai zooprophylaxis akan tumbang dan berubah menjadi zooptentiation yang sangat penting artinya dalam upaya pengendalian penyakit malaria. Dengan kata lain anggapan ternak ruminansia sebagai barrier akan berubah menjadi reservoir non manusia bagi penularan Plasmodium falciparum. Belum adanya hasil kajian yang menjawab berbagai permasalahan tersebut menjadikan topik ini sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Jun 23

Buku : Belajar Sitohistoteknologi Untuk Pemula

cover sitohistoteknologi
cover sitohistoteknologi-1

Alhamdulillah….
Telah selesai ditulis dan diterbitkan sebuah buku kecil yang insya Allah bermanfaat bagi adik-adik yang sedang belajar bidang Sitohistoteknologi – Histologi – Patologi Anatomi.
Semoga bermanfaat.

Jun 22

Mengenal Berbagai Genus Nyamuk

KBM 8 Arthropoda Yang Berperan Sbg Vektor dan Penyebab Penyakit

Older posts «

css.php