Jul 30

Teknik Identifikasi dan Pemeriksaan Laboratorium Infeksi Kecacingan (Buku baru)

Contoh cover teknik identifikasi

Contoh halaman isi teknik identifikasi

Jul 30

SAPI, Benarkah Dapat Menularkan MALARIA ?

Sampai saat ini malaria masih merupakan penyakit infeksi utama yang menyebabkan tingginya tingkat kecacatan dan kematian di negara-negara tropis dan subtropis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada 2008 total tahunan 247 juta kasus malaria di seluruh dunia, dengan satu juta kematian dan 85% dari kematian ini terjadi di balita. Hal ini membuat malaria merupakan masalah kesehatan di negara-negara endemik yang sangat membutuhkan perhatian dan manajemen terpadu.1Angka kematian tertinggi, terutama di balita, terjadi di wilayah sub-Sahara Afrika, sementara tingkat kematian tertinggi kedua di Asia Tenggara.2
Pada tahun 2011, The World Malaria Report melaporkan kembali bahwa sampai tahun 2010 tercatat 216 juta kasus malaria diantara 3,3 miliar penduduk dunia yang berisiko terkena penyakit malaria. Tercatat 655.000 orang meninggal akibat malaria di seluruh dunia dan 86 % diantaranya adalah anak-anak kurang dari 5 tahun. Sebanyak 91 % kematian akibat malaria terjadi di Afrika.3
Laporan dari Sub Sahara Afrika, malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat dimana kasus tertinggi terjadi antara bulan September – Desember. Sementara pada bulan Juni – Agustus dilaporkan 300-500 juta kasus dan pada bulan April terjadi sekitar satu juta kematian telah. Terjadinya outbreak sudah menjadi hal umum dan malaria manjadi empat penyebab utama kematian anak di di Negara-negara berkembang dengan distribusi kasus tergantung dari populasi penduduk usia 5 tahun di masing-masing Negara. 4
Penularan malaria dan tingginya kasus berkaitan dengan masalah iklim dan ketinggian daerah dari permukaan air laut.5, 6 Malaria menjadi perhatian dan penyakit utama penduduk miskin di Afrika karena merupakan salah satu penyebab utama kematian yang sulit dihindari, dan sebagai penyumbang angka morbiditas dan mortalitas yang penting. Meskipun upaya untuk mengendalikan malaria di Afrika sudah banyak dilakukan, namun hingga saat ini masih menjadi beban bagi aangka malaria global. Peningkatan kasus malaria sebesar 71% dan kematian mencapai 86% di Afrika diantaranya akibat resistensi parasit terhadap obat. Terhitung seorang penderita akan meninggal setiap 10 detik akibat malaria di Afrika. 7
Di Indonesia, malaria ditemukan hampir di semua wilayah. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar menunjukkan pada tahun 2011 terdapat 374 Kabupaten endemis malaria dan diperkirakan ada 256.592 kasus malaria dengan jumlah kematian akibat malaria sebesar 388 orang.8 Oleh karena itu penyakit malaria menjadi target pemerintah untuk dieliminasi secara bertahap sampai tahun 2030. Kementerian Kesehatan menargetkan tahun 2015 telah berhasil mengeliminasi penyakit malaria di Pulau Jawa-Bali dan meningkatkan langkah sosialisasi kepada masyarakat untuk mencapai target tersebut. Pelaksanaan pengendalian malaria menuju eliminasi dilakukan secara bertahap dari satu pulau atau beberapa pulau sampai seluruh pulau tercakup guna terwujudnya masyarakat yang hidup sehat yang terbebas dari penularan malaria sampai tahun 2030.9
Endemisitas malaria di kabupaten/kota terlihat penurunan jumlah daerah endemis tinggi dimana pada tahun 2011 kabupaten/kota yang termasuk daerah endemis tinggi sebanyak 18%, pada tahun 2012 sebanyak 16% dan pada tahun 2012 menjadi 14%. Sebaliknya, persentase kabupaten/kota dengan endemisitas rendah meningkat. Secara nasional angka kesakitan malaria selama tahun 2005–2013 cenderung menurun yaitu dari 4,1 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2005 menjadi 1,38 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2013. 10
Program eliminasi malaria di Jawa – Bali pada tahun 2015 tampaknya belum sepenuhnya berhasil. Jumlah kasus malaria di Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 3.467 kasus dengan CFR 0,12%, meningkat dibandingkan kasus tahun 2010 sebanyak 3.300 kasus. Penderita malaria tahun 2012 ditemukan di 27 kabupaten, terbanyak di Kabupaten Banjarnegara (592 penderita) dan tidak ada kasus di 8 Kabupaten/Kota. Pada tahun 2012 masih ditemukan desa High Case Incidence (HCI) sebanyak 31 desa yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Purworejo, Kebumen, Purbalingga, Banyumas dan Jepara. Angka kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence-API) merupakan indikator untuk memantau perkembangan penyakit malaria. Jumlah kasus tahun 2012 sebanyak 2.420 kasus, lebih rendah dibanding tahun 2011 (3.467 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0,08‰, sedikit turun dibandingkan tahun 2011 (0.11‰). Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2012 sebesar 0,01%. Hampir semua Kabupaten/Kota tidak terdapat kasus kematian tetapi hanya Kabupaten Blora yang mempunyai kasus kematian karena malaria dengan angka 2% namun kasus malaria impor.11
Sporozoit Plasmodium spp masuk bersama gigitan nyamuk lalu bermigrasi ke hati dan berkembang hingga menghasilkan merozoit yang dilepaskan ke dalam darah. Merozoit akan menginvasi eritrosit dan berkembang menjadi stadium tropozoit dan schizon. Schizon matang akan menghasilkan merozoit kembali. Merozoit bebas dengan kisaran 16 – 32 buah kemudian menyerang eritrosit lain untuk melanjutkan siklus hidupnya. Semua gejala klinis timbul selama siklus aseksual ini. Dalam eritrosit, sebagian stadium tropozoit akan berkembang menjadi gametosit jantan atau betina, sebagai bentuk seksual Plasmodium spp. Stadium gametosit akan masuk ke tubuh nyamuk saat terjadi proses gigitan nyamuk betina. Di dalam tubuh nyamuk kedua jenis gametosit akan melakukan perkawinan dan membentuk zigot. Zigot berkembang untuk membentuk ookinete invasif, yang melintasi midgut dan berubah menjadi sebuah ookista yang mengandung sporozoit. Saat sporozoit dilepaskan ke kelenjar ludah, nyamuk dapat menularkan malaria ke vertebrata lain melalui gigitannya.12
Mulainya fase eritrositik siklus schizogoni adalah saat proses invasi merozoit ke dalam eritrosit. Merozoit dapat melakukan invasi eritrosit dengan mekanisme pengikatan antara ligan yang terdapat pada merozoit Plasmodium spp dengan reseptor yang dimiliki oleh eritrosit. Pasangan reseptor-ligan merupakan hal sangat penting bagi invasi eritrosit di semua pengujian strain P. falciparum.13 Invasi eritrosit oleh P. falciparum merupakan pusat patogenesis malaria. Invasi membutuhkan mekanisme ekstraseluler antara reseptor eritrosit dan ligan pada merozoit yang merupakan bentuk invasif parasit. 14-17 Ok blood group antigen, yaitu basigin, adalah reseptor untuk PfRh5 yang merupakan parasit ligan yang sangat penting dalam invasi eritrosit.18 Sedangkan untuk P. vivax ikatan ligan – reseptor melalui mekanisme adanya Duffy Antigen for Receptor Chemokin (DARC).19
Penularan malaria dapat berjalan dengan adanya nyamuk Anopheles spp. Uji presiptin terhadap darah yang dihisap oleh An aconitus dari beberapa lokasi di Jawa Tengah menunjukan angka 93.5 % berasal dari hewan, dan hanya 6.5 % berasal dari manusia. Dari darah hewan, ternyata darah bovidae (kerbau,sapi) menunjukan sumber utama, lebih dari 90 %. Di beberapa lokasi lain di mana jumlah ternak sangat sedikit atau tidak ada ternak sama sekali angka untuk darah berasal dari manusia (human blood index) naik menjadi 54.3%.20 Penelitian sejenis pada tahun berikutnya juga melakukan uji presipitin menunjukkan 56,04% dari populasi An. aconitus mengisap darah sapi, 23,07% darah kerbau, 13,19% darah domba dan 4,40% darah kambing serta 3,30% darah manusia. Hasil tersebut menyimpulkan bahwa ternak sapi atau kerbau dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan metode zooprofilaksis baik secara aktif maupun pasif dalam mengatasi penularan malaria. 21
Apabila dikaitkan antara kebiasaan menghisap darah oleh Anopheles spp betina dan siklus aseksual Plasmodium spp dalam tubuh vertebrata termasuk manusia, jelas sekali keduanya sangat erat kaitannya dalam penularan malaria sehingga memunculkan gagasan tentang zooprofilaksis. Penggunaan ternak ruminansia sebagai umpan untuk menarik nyamuk agar tidak menggigit manusia sehingga dapat mengurangi penularan malaria, merupakan proposisi menarik yang telah diperdebatkan selama bertahun-tahun. Ternak akan bertindak sebagai tuan rumah buntu, karena Plasmodium spp sebagai spesies malaria yang menginfeksi manusia tidak akan berkembang optimal di dalamnya.22 Namun demikian, pendapat tentang ternak ruminansia sebagai tuan rumah buntu tersebut tidak didukung oleh seluruh hasil penelitian yang ada. Beberapa penelitian yang mengamati keberadaan ternak di sekitar tempat tinggal memberikan hasil temuan yang berbeda.
Erdinal et al, menyatakan bahwa keberadaan tempat pemeliharaan ternak besar di sekitar rumah hunian merupakan faktor risiko terhadap kejadian malaria (OR 3,2; CI 95% : 1,650 – 6,693) 23 demikian pula dengan Kukuh Purwo Saputro, Arum Siwiendrayanti yang menyatakan ada hubungan antara keberadaan kandang ternak dengan kejadian malaria (p=0,012; OR=4,343).24 Lefaan et al, juga menyatakan bahwa adanya tempat pemeliharaan ternak di sekitar rumah merupakan faktor risiko kejadian malaria namun tidak signifikan (OR = 2,69; CI 95% : 0.33 – 22.24).25
Sementara Dewi Susanna, menemukan hasil bahwa keberadaan ternak besar merupakan faktor protektif terhadap kejadian malaria (OR = 0,76; CI 95% : 0,71–0,80)26, populasi nyamuk Anopheles ditemukan jauh lebih banyak di area kandang dan ternaknya dibandingkan dengan dalam ruangan rumah yang berisi manusia.27 Penelitian lain yang menggabungkan antara penggunaan ternak dan insektisida mendapatkan hasil bahwa sapi yang tidak berinsektisida justru lebih protektif sebagai barrier terhadap gigitan Anopheles apabila dibandingkan sapi yang berinsektisida.28 Kajian lainnya melaporkan risiko kejadian malaria berkurang atau ternak berperan sebagai zooprophylaxsis di daerah dimana spesies nyamuk yang dominan tidak menyukai host manusia, dan ternak ditempatkan pada kandang yang tidak terlalu dekat dengan tempat tidur manusia. Ternak sebagai zoopotentiation terjadi di mana ternak ditempatkan di dalam atau di dekat tempat tidur manusia di malam hari dan di mana spesies nyamuk lebih suka host manusia.29
Di sisi lain, Cheryl-Ann Lobo melaporkan dari hasil kajiannya tentang invasi eritrosit oleh Babesia divergens dan P. falciparum. Kedua spesies parasit yang berbeda hospes tersebut ditemukan memiliki jalan masuk ke dalam eritrosit melalui reseptor umum yang sama, yaitu glikophorin A dan B. Dengan ditemukannya jenis reseptor yang sama tersebut, memberikan peluang untuk terjadinya penularan silang hospes pada Babesiosis yang terjadi pada hewan dan Plasmodium falciparum pada manusia. 30
Hillary Hurd memang telah menyampaikan pendapatnya bahwa ternak ruminansia besar merupakan sebuah tuan rumah buntu bagi perkembangan parasit Plasmodium spp. Namun demikian pendapat tersebut tidak didukung oleh data hasil penelitian yang akurat. Selanjutnya, apabila memang Plasmodium falciparum dapat melakukan invasi ke dalam eritrosit ternak ruminansia, pertanyaan berikutnya apakah Plasmodium falciparum dapat berkembang di dalamnya ? Apakah juga dapat menghasilkan stadium seksual ? Belum ada yang melaporkan apakah Plasmodium spp dapat berkembangbiak sebagaimana pada manusia sebagai host perantara pada ternak ruminansia tersebut ataukah tidak. Apabila memiliki kemampuan berkembang biak hingga stadium seksual dalam eritrosit ternak ruminansia, maka status ternak ruminansia yang selama ini dianggap sebagai zooprophylaxis akan tumbang dan berubah menjadi zooptentiation yang sangat penting artinya dalam upaya pengendalian penyakit malaria. Dengan kata lain anggapan ternak ruminansia sebagai barrier akan berubah menjadi reservoir non manusia bagi penularan Plasmodium falciparum. Belum adanya hasil kajian yang menjawab berbagai permasalahan tersebut menjadikan topik ini sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Jun 23

Buku : Belajar Sitohistoteknologi Untuk Pemula

cover sitohistoteknologi
cover sitohistoteknologi-1

Alhamdulillah….
Telah selesai ditulis dan diterbitkan sebuah buku kecil yang insya Allah bermanfaat bagi adik-adik yang sedang belajar bidang Sitohistoteknologi – Histologi – Patologi Anatomi.
Semoga bermanfaat.

Jun 22

Mengenal Berbagai Genus Nyamuk

KBM 8 Arthropoda Yang Berperan Sbg Vektor dan Penyebab Penyakit

Apr 28

TEKNIK PENGUMPULAN DAN PENANGKAPAN NYAMUK

A.Tujuan Pengumpulan dan Penangkapan Nyamuk
Pengumpulan dan penangkapan nyamuk merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data entomologi tentang nyamuk pada suatu wilayah tertentu. Berbagai informasi dapat diperoleh dari kegiatan ini, diantaranya mengetahui jenis nyamuk yang kontak dengan orang atau binatang, mengetahui jenis nyamuk yang hinggap di dalam rumah atau di semak luar rumah baik sebelum maupun setelah menggigit orang. Kita juga dapat menghitung kepadatan vector nyamuk pada lokasi penangkapan termasuk mengtahui besaran angka gigitan pada manusia. Selain itu dengan pengumpulan jentik nyamuk kita dapat mengetahui jenis nyamuk yang berada di tempat perindukan tersebut.

B.Teknik Pengumpulan Telur Nyamuk
Dalam hal pengumpulan telur nyamuk dapat dilakukan dengan cara langsung mencari dan mengumpulkan telur yang ditemukan di tempat perindukan atau dengan cara memasang tempat perindukan buatan sebagai jebakan agar nyamuk bertelur di dalamnya.

1.Pengumpulan langsung dari habitat tempat perindukan
Kegiatan ini harus didahului dengan pemahaman yang baik tentang tempat yang menjadi perindukan nyamuk. Langkah selanjutnya adalah mencari informasi tentang jenis dan lokasi tempat perindukan yang terdapat di wilayah kegiatan. Tahap pengumpulan telur dilakukan dengan menyisir seluruh area tempat perindukan secara teliti untuk menemukan telur nyamuk tersebut. Telur nyamuk Aedes biasanya akan berada dalam genangan air yang tidak bersinggungan langsung dengan tanah, seperti adanya kaleng bekas yang terisi air hujan, tanaman berpelepah yang menyimpan air dan sebagainya. Telur nyamuk Culex akan banyak ditemukan pada permukaan air tempat perindukan secara bergerombol, sedangkan telur nyamuk Mansonia biasanya akan banyak ditemukan di bawah dedaunan tumbuhan air.
Telur nyamuk yang terkumpul harus segera dikeringkan agar tidak menetas menjadi larva. Proses pengeringan telur ini tidak boleh menggunakan pemanas lampu atau lainnya karena dikhawatirkan akan dapat mematikan sel telur di dalamnya. Pemanasan dengan sinar matahari langsung juga sebaiknya dihindari. Disarankan pengeringan dengan teknik kering angin. Telur kering disimpan dalam wadah kering tidak lembab. Penyimpanan dapat menggunakan lembaran kertas buku atau menggunakan botol bermulut lebar.
Guna identifikasi jenis telur yang didapat, dilakukan dengan bantuan lensa pembesar (lup) atau mikroskup cahaya. Telur Aedes akan menampakkan ornamen khas pada bagian dindingnya. Telur Culex biasanya bergerombol berjejer seolah seperti rakit, bila tunggal akan memberikan gambaran seperti peluru kendali. Telur Mansonia memiliki bentuk khas yang langsing dengan spina pada salah satu ujungnya. Sedangkan telur Anopheles berbentuk oval dan tampak memiliki organ semacam pelampung di kedua sisinya.

2.Pengumpulan dengan ovitrap
Agar dapat terkumpul telur nyamuk dalam jumlah relatif banyak dan mengumpul pada suatu tempat kita dapat membuat alat perangkap telur nyamuk (ovitrap) yang dipasang pada lokasi dekat tempat perindukan. Ovitrap akan menarik nyamuk dewasa betina bertelur di dalamnya. Jenis perangkap harus dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan sifat bionomik nyamuk yang terdapat pada lokasi penangkapan. Ovitrap akan memudahkan kita dalam kegiatan pengumpulan telur nyamuk karena kita tidak perlu menyisir seluruh area tempat perindukan untuk mendapatkan telur namun kita hanya langsung menuju ovitrap-ovitrap yang telah kita pasang untuk mengambil telur yang tertangkap. Jumlah ovitrap seyogyanya menyesuaiakan kebutuhan jumlah telur yang akan dikumpulkan.
Sejak kita meletakkan ovitrap pada tempat-tempat yang diduga terdapat populasi nyamuk tinggi, hendaknya setiap hari kita lakukan pengecekan pada setiap ovitrap yang kita pasang. Apabila telur yang terkumpul sudah relative banyak dalam sebuah ovitrap sebaiknya langsung kita ambil dan dilakukan proses pengeringan telur. Proses pengeringan merupakan sebuah cara untuk menghentikan sementara siklus kehidupan nyamuk. Tanpa adanya pengontrolan setiap hari, sangat mungkin telur yang tertangkap dalam ovitrap dalam air atau suasana kelembaban tinggi akan menetas menjadi larva.
Ovitrap memiliki variasi model dan system kerja yang bermacam-macam. Jenis ovitrap harus disesuaikan dengan perilaku hidup dari jenis nyamuk yang akan ditangkap. Untuk Aedes kita dapat menggunakan ovitrap dari kaleng bekas atau wadah lain yang telah dimodifikasi. Untuk jenis nyamuk lainnya kita harus mengkondisikan sesuai kesukaannya pula misalnya dengan menambahkan lapisan tanah pada ovitrap untuk jenis nyamuk yang menyukainya. Membuat perangkap dengan tumbuhan air relative rumit dan tidak dapat dirancang dalam ukuran yang kecil sehingga untuk nyamuk Mansonia yang biasanya hanya ditemukan pada daerah rawa kita tidak perlu membuat perangkap telur nyamuk buatan. Keberadaan nyamuk jenis ini relative kecil apabila di suatu daerah tidak memiliki area berupa rawa. Sebaliknya apabila ditemukan area yang berupa rawa-rawa kita focuskan pencarian di bawah dedaunan tumbuhan air yang ada.

C.Teknik Pengumpulan Larva
Pengumpulan larva (jentik) dari lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan pencidukan larva dari tempat-tempat perindukan nyamuk. Selain untuk mengetahui jenis jentik nyamuk yang terkumpul, kegiatan ini juga dapat untuk melakukan penghitungan kepadatan jentik pada suatu wilayah. Observasi berbagai tempat perindukan nyamuk sebaiknya dilakukan mendahului pengumpulan jentik sehingga pada saat kegiatan pengumpulan kita dapat langsung mengetahui lokasi yang menjadi sasaran pencidukan jentik dari tempat perindukannya.
Beberapa peralatan dibutuhkan dalam pengumpulan jentik diantaranya adalah cidukan jentik, botol jentik (sebaiknya bermulut lebar), pipet tetes ujung tumpul, kertas label dan formulir survey. Cidukan jentik fungsinya sebagai alat untuk mengambil jentik nyamuk dari tempat perindukannya. Bentuk cidukan dapat bermacam-macam menyesuaikan bentuk dan posisi tempat perindukannya. Botol jentik digunakan sebagai wadah penyimpanan jentik nyamuk yang terkumpul dari lapangan. Setiap botol sebaiknya digunakan untuk menyimpan jentik nyamuk dari titik pengambilan yang sama. Pipet tetes ujung tumpul digunakan untuk memindahkan jentik nyamuk dari cidukan ke dalam botol penyimpan. Ujung pipet dibuat tumpul agar jentik dalam berbagai ukuran dapat dengan mudah masuk ke dalam pipet sehingga dapat dipindahkan. Kertas label mutlak diperlukan untuk memberikan kode tertentu pada botol penyimpanan jentik sehingga tidak tertukar lokasi titik pengambilan jentiknya. Sedangkan formulir survey juga dibutuhkan untuk mencatat segala informasi yang diperoleh baik mengenai kondisi sebelum dan setelah pengambilan jentik maupun informasi lingkungan sekitar yang diperlukan.
Tahapan identifikasi jentik nyamuk membutuhkan beberapa peralatan lain. Pada tahap awal cukup dilakukan identifikasi secara mikroskopis. Alat utama yang dibutuhkan adalah sebuah mikroskup sedangkan penunjangnya berupa kaca obyek dan penutupnya. Untuk mematikan jentik nyamuk sebelum identifikasi dapat digunakan larutan alkohol 70 %. Teknik ini cukup sederhana, jentik nyamuk diambil seekor dengan pipet tetes lalu ditaruh pada tengah kaca obyek. Selanjutnya ditetesi dengan alkohol 70 % dan setelah tidak bergerak lagi ditutup dengan kaca penutup. Langkah akhir adalah melakukan identifikasi secara mikroskopis menggunakan kunci identifikasi yang ada sesuai referensi. Cara lain mematikan jentik nyamuk adalah dengan mengganti air dalam botol penyimpanan dengan larutan alkohol 70 %, setelah mati baru dipindahkan pada kaca obyek.
Angka kepadatan jentik diperlukan untuk mengetahui estimasi populasi dari suatu tempat perindukan. Semakin besar angka kepadatan jentik tentu dapat diasumsikan semakin banyak pula populasi vector penyakit di suatu wilayah sehingga peluang penularan penyakitnya akan lebih tinggi. Angka kepadatan jentik ini menunjukkan rata-rata jentik nyamuk tertangkap untuk setiap spesies dari seluruh pencidukan yang dilakukan pada suatu tempat perindukan. Dapat dihitung dengan formula berikut :

Angka kepadatan jentik = Jumlah jentik tertangkap per spesies / Jumlah pencidukan jentik

Sebagai contoh apabila dalam suatu tempat perindukan dilakukan pencidukan jentik sebanyak 100 kali ditemukan jentik Culex sebanyak 26 ekor, jentik Anopheles sebanyak 35 ekor maka dapat dihitung kepadatan jentik Culex sebesar 26/100 = 0,26 sedangkan kepadatan jentik Anopheles sebesar 35/100 = 0,35. Hal ini artinya angka kepadatan jentik Anopheles relative lebih tinggi dibandingkan kepadatan jentik Culex pada tempat perindukan tersebut.

D.Teknik Penangkapan Nyamuk Dewasa
Nyamuk dewasa dengan sayapnya merupakan stadium nyamuk yang memiliki tingkat mobilitas paling tinggi. Gerakan yang lincah dengan terbangnya merupakan sebuah tantangan yang harus diatasi dengan teknik yang tepat. Menangkap nyamuk dewasa tentu saja memerlukan sebuah ketrampilan yang memadai. Teknik penangkapan nyamuk dewasa yang bertujuan akhir tertangkapnya sejumlah nyamuk pada suatu wilayah juga memberikan prasyarat tertentu. Nyamuk yang tertangkap diharapkan tidak mengalami kerusakan terutama morfologinya sehingga dapat dilakukan identifikasi secara menyeluruh dan detil pada seluruh organ tubuhnya. Prasyarat lain sangat bervariasi, misalnya nyamuk akan diuji resistensi terhadap obat tertentu maka kita tidak boleh menangkap nyamuk dengan obat anti nyamuk karena hal tersebut tentu akan mempengaruhi hasil pengujian.
Penangkapan nyamuk dewasa dapat dilakukan dengan beberapa teknik diantaranya adalah penangkapan dengan aspirator, penangkapan dengan tabung reaksi dan menggunakan jaring. Beberapa peralatan yang diperlukan dalam penangkapan nyamuk dewasa adalah aspirator, tabung reaksi besar (16 x 150 mm), cup plastik atau kertas bertutup kasa, kapas dan karet gelang. Untuk penangkapan di malam hari atau pada lokasi yang gelap kita gunakan senter.

1.Penangkapan dengan aspirator
Aspirator untuk menangkap nyamuk merupakan alat yang biasanya dibuat dari tabung kaca atau plastik transparan yang dipadu dengan pipa selang karet dan bekerja dengan system hisap. Penghisapan biasanya dilakukan secara manual menggunakan mulut seorang entomolog agar memberikan kemudahan dan keleluasaan dalam menangkap nyamuk.

Aspirator_kecil
Gambar 1. Aspirator penangkap nyamuk

Teknik penangkapan nyamuk dengan aspirator secara teoritik tampak mudah dilakukan namun dalam praktiknya tidak semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan ketrampilan dengan dukungan ketelatenan dan kesabaran yang tinggi agar dapat menangkap nyamuk di lapangan. Pada populasi yang cukup padat ujian di lapangan tidak begitu berat karena jumlah nyamuk yang banyak akan mempercepat selesainya pekerjaan, namun populasi yang jarang benar-benar menjadi tantangan yang menarik. Nyamuk yang hinggap di berbagai media baik di dalam rumah maupun di luar rumah menjadi target penangkapan.
Pada saat target nyamuk sudah ditemukan sedang istirahat pada media hinggapnya, kita siapkan aspirator dengan memasang ujung hisapnya pada mulut kita sementara tangan kanan memegang batang aspirator dan mengarahkan lubang pipa aspirator kearah nyamuk. Sebaiknya arah lubang pipa aspirator dari bagian ekor nyamuk. Dengan sigap kita sergap nyamuk agar masuk pada lubang batang aspirator dan bersamaan dengan itu kita menghisap melalui ujung penghisap. Setelah nyamuk terhisap ke dalam pipa aspirator, segera kita tutup ujung lubang pipa aspirator dengan jari tangan kiri. Selanjutnya kita buka kapas penutup kasa pada cup plastik dan secara hati-hati kita masukkan ujung pipa aspirator ke dalam cup tersebut. Dengan perlahan kita tiup aspirator untuk mendorong nyamuk agar keluar dari batang pipa aspirator hingga masuk ke dalam cup. Setelah itu kita tarik aspirator dari dalam cup dan segera kita tutup kembali lubang kasa pada cup dengan kapas agar nyamuk tidak keluar.

2.Penangkapan menggunakan umpan orang
Penangkapan dengan umpan orang ini juga dilakukan menggunakan alat aspirator. Perbedaan dengan teknik yang pertama adalah digunakannya umpan orang sebagai penarik nyamuk. Agar lebih mudah dalam proses penangkapan, sebaiknya teknik ini dilakukan oleh dua orang. Seorang sebagai umpan dan seorang lagi bertugas menangkap nyamuk dengan aspirator. Orang yang berperan sebagai umpan harus berdiam diri agar banyak nyamuk yang hinggap untuk mencari darah. Membuka baju dan membiarkan setengah badan terbuka akan lebih menarik bagi nyamuk untuk datang. Pada saat nyamuk sudah hinggap pada badan orang yang berperan sebagai umpan, petugas yang lain segera menangkap nyamuk menggunakan aspirator dengan sigap. Apabila pada suatu titik penangkapan tidak banyak ditemukan nyamuk kita dapat menggeser posisi.

3.Penangkapan dengan tabung reaksi.
Penangkapan menggunakan tabung reaksi pada prinsipnya sama dengan penangkapan menggunakan aspirator. Pada teknik ini alat aspirator digantikan dengan tabung reaksi ukuran besar (16 x 150 mm). Perbedaan yang utama adalah prinsip kerjanya, apabila aspirator menggunakan prinsip penghisapan, pada alat tabung reaksi hanya menggunakan prinsip penjebakan saja sehingga dibutuhkan konsentrasi dan ketrampilan yang lebih memadai. Selain itu tabung reaksi tidak memiliki lubang udara lain kecuali mulut tabung sehingga sesaat setelah nyamuk tertangkap harus segera dipindahkan ke dalam cup penampung agar dapat tetap hidup dengan udara bebas.

Menangkap pake tabung_1_kecil
Gambar 2. Menangkap nyamuk dengan tabung reaksi

4.Penangkapan dengan jaring
Penangkapan menggunakan jaring biasanya dilakukan pada populasi nyamuk yang tinggi. Jaring biasanya dibuat dari kain kasa lembut seperti bahan kain kelambu agar dapat mengurung nyamuk di dalamnya. Dengan mengayunkan jaring kita akan dapat mengumpulkan nyamuk dalam jumlah yang lebih banyak. Nyamuk yang terperangkap di dalam jaring selanjutnya kita pindahkan ke dalam cup wadah dengan bantuan aspirator. Teknik ini akan lebih mempecepat pekerjaan penangkapan nyamuk apabila dibandingkan dengan penangkapan satu per satu menggunakan aspirator.

jaring nyamuk
Gambar 3. Jaring kasa penangkap nyamuk

Proses penangkapan dengan jaring dapat dilakukan oleh seorang petugas saja, namun pada saat pemindahan ke dalam cup wadah nyamuk sebaiknya dilakukan oleh dua petugas dimana seorang memfiksasi nyamuk tertangkap di dalam jaring dan seorang lagi memindahkan nyamuk menggunakan aspirator.

cup nyamuk_kecil
Gambar 4. Cup penampung nyamuk dewasa

Apr 27

Tropozoit Plasmodium vivax

Stadium paling awal dalam fase eritrositer ini memiliki bentuk khas dengan cincin amoeboid pada eritrosit yang membesar. Bintik schufnner yang jelas pada sediaan apus hanya akan menyisakan zona merah pada sediaan tebal yang diwarnai dengan Giemsa.

The earliest stage in this eritrositer phase has a distinctive shape with a ring enlarged amoeboid in erythrocytes. Schufnner clear spots on the smear will leave only the red zone on thick preparations stained with Giemsa.

Trop. P vivax

Apr 24

Tropozoit – Schizont Plasmodium vivax

Stadium tropozoit Plasmodium vivax pada sediaan tebal tampak khas dengan cincing amoeboid dan zona merahnya. Sementara stadium schizont memiliki merozoit dengan ukuran relatif besar dalam jumlah relatif sedikit.

Plasmodium vivax-3

Apr 23

Makrogametosit Plasmodium vivax

Gametosit merupakan stadium berjenis kelamin dari Plasmodium pada siklus schizogoni fase eritrositer. Pada gambar adalah makrogametosit Plasmodium vivax pada sediaan darah. Inti yang kompak mengumpul di daerah marginal dilengkapi bintik scufnner melengkapi ciri khasnya.
Makrogamet P. vivax

Apr 21

Pembacaan Mikroskopis Telur Enterobius vermicularis Pada Sediaan Periplaswab

Telur Enterobius vermicularis atau yang lebih familier disebut cacing kremi dapat diperiksa secara mudah secara mikroskopis. Dengan alat PERIPLASWAB morfologi telur sangat khas berbentuk oval asimetris dengan 2 lapisan dinding telurnya. Perlu kehati-hatian mengingat media baca PERIPLASWAB merupakan perpaduan media plastik berperekat sehingga sangat mungkin terbentuk gelembung udara dalam sediaan baca tersebut. Pada gambar berikut merupakan contoh tampilan telur cacing dan gelembung udara yang bentuknya hampir mirip.
Telur OV_gelembung

Apr 15

MODEL KEMITRAAN LINTAS SEKTORAL DALAM PENANGANAN ENTEROBIASIS PADA ANAK SEKOLAH

Kejadian infeksi cacing kremi pada anak yang sedemikian tinggi menjadi sebuah keprihatinan yang sangat pantas untuk dicarikan solusi. Apalagi kasus enterobiasis ini lebih sering menyerang pada kelompok usia anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Menghindarkan anak dari penyakit enterobiasis merupakan langkah nyata untuk menyelamatkan satu generasi di masa mendatang.
Melihat kenyataan tersebut, sudah tidak pantas lagi kita memandang remeh kejadian infeksi akibat cacing kremi. Memang tidak harus selalu menjadikan infeksi cacing kremi ini dalam skala prioritas utama penanganan masalah kesehatan oleh pihak terkait, namun bukan berarti tidak diperhatikan sama sekali. Perlu upaya-upaya mendasar untuk mengatasi dan mengendalikan merebaknya penyakit ini. Tidak mudah memang mengubah pandangan dari infeksi yang ringan dan mudah diatasi ini menjadi sebuah masalah serius yang harus diperhatikan. Dibutuhkan kekuatan yang cukup dari instansi resmi untuk menjadi komandan gerakan ini.
Perlu adanya sebuah gerakan yang diprakarsai oleh pihak-pihak terkait dalam menangani masalah infeksi akibat cacing kremi ini. Gerakan untuk membebaskan anak-anak kita dari infeksi cacing kremi tampaknya menjadi sebuah pilihan nama gerakan yang sangat mungkin digulirkan. Agar gerakan yang digulirkan ini dapat berhasil dan berjalan sesuai harapan serta berkesinambungan seyogyanya diikuti dengan program pemberdayaan masyarakat.
Setelah kesadaran masyarakat muncul dalam memahami pentingnya menjaga anak dari infeksi cacing kremi maka lembaga terkait hanya tinggal memberikan dukungan dari aspek teknis dalam kemudahan proses pemeriksaan infeksi tersebut. Kolaborasi dengan masyarakat ini diharapkan lebih dapat menjaga kesinambungan program karena berbasis pada kebutuhan masyarakat. Adanya kesadaran masyarakat yang tinggi dan ikut berpartisipasi aktif dalam program gerakan bebas cacing kremi inilah yang diharapkan menjadi tonggak kemandirian masyarakat yang dapat membebaskan anak dari infeksi cacing kremi secara terus-menerus.
Pemberdayaan masyarakat dalam membantu gerakan bebas cacing kremi ini dimulai dari tumbuhnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan bebas cacing kremi pada anak hingga kesadaran dalam melakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan infeksi cacing kremi. Selanjutnya tahapan pembacaan hasil apusan perianal harus ditangani secara serius pula. Selama ini pemeriksaan infeksi cacing kemi hanya bertumpu pada lembaga pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit dan laboratorium kesehatan. Semua lembaga pelayanan kesehatan tersebut merupakan lembaga berbayar dan juga memiliki sumber daya yang terbatas untuk dapat setiap saat bersiaga dalam menangani masalah infeksi cacing kremi.
Tidak perlu menggunakan metode dan teknik pemeriksaan yang super canggih untuk dapat mengidentifikasi kejadian infeksi cacing kremi ini. Satu-satunya alat yang mutlak digunakan untuk melakukan pembacaan hasil pemeriksaan ini hanyalah sebuah mikroskup. Mengapa tidak melibatkan semua unsur lembaga yang memiliki alat mikroskup dalam membantu suksesnya gerakan ini ? Sebuah keniscayaan, kita dapat menggerakkan masyarakat sekolah yang selama ini hanya berkutat dengan belajar dan belajar.

Mengapa sekolah yang kita harapkan dapat membantu gerakan ini ?

Mari kita cermati, hampir setiap sekolah menengah atas memiliki laboratorium biologi yang di dalamnya dipastikan memiliki alat mikroskup. Mengapa selama ini kita tidak pernah berpikir untuk menjadikan keahlian mengenal infeksi cacing kremi pada seluruh anak didik kita tersebut ? Mengapa tidak berpikir pula menggandeng masyarakat sekolah untuk mendukung program gerakan bebas cacing kremi ini ?
Untuk dapat menggerakkan masyarakat sekolah dalam mendukung gerakan ini tentunya harus dirancang langkah-langkah strategis yang mencakup seluruh pihak terkait. Advokasi lintas sektoral dari lembaga resmi pemerintahan yang ada akan lebih memperkuat alur kerjasama kemitraan dalam program ini. Departemen Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Kota dan Departemen Pendidikan Nasional khususnya Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan lembaga besar yang dapat menjadi induk dari lembaga layanan seperti puskesmas, rumah sakit juga sekolah-sekolah.
Memang tidak harus sebuah gagasan dimulai dari pusat. Setidaknya antar lembaga paling hilir, misal antara sekolah dengan puskesmas di lingkungan setempat saja sudah dapat menjalankan fungsi kerjasama dan kemitraan ini. Paling tidak untuk masyarakat dalam area layanan puskesmas terkait. Apabila setiap puskesmas menggandeng sekolah yang ada wilayah layanannya, maka akan dapat benar-benar menjadikan gerakan ini sebuah gerakan nyata yang fenomental.
Dengan memanfaatkan alat periplaswab yang membutuhkan partisipasi orang tua dan keluarga dalam pengambilan spesimen pemeriksaan, dapat dimunculkan program bersama antara kedua lembaga dalam sebuah kerangka kerjasama pengabdian, akan lebih baik lagi bila ada perusahaan farmasi yang ikut mendukung gerakan ini khususnya perusahaan farmasi yang memproduksi obat-obat untuk infeksi ccing kremi. Pemberian pelatihan kepada siswa perihal cara pembacaan sediaan juga cara pembuatan periplaswab merupakan bentuk kerjasama yang dapat dikembangkan. Bagi sekolah, ketrampilan membuat periplaswab dapat menjadi kegiatan ekstrakulikuler bahkan dapat menjadi ajang pemberalajaran dalam berwirausaha bagi siswa bila diproduksi dan dipasarkan pada masyarakat. Bagi puskesmas atau rumah sakit, dapat meringankan beban pemeriksaan yang terbantu oleh sekolah. Bagi perusahaan farmasi juga diuntungkan, dengan adanya gerakan mandiri masyarakat melakukan deteksi infeksi cacing kremi maka secara mandiri pula masyarakat yang terinfeksi akan mengobati dirinya dan keluarga. Mungkinkah perusahaan farmasi digandeng untuk bersinergi dalam gerakan ini ? Jawabnya, sangat mungkin apabila ada yang menggandeng untuk bermitra dalam program yang jelas dan terukur.

Older posts «

css.php